Lebaran 2023 Kapan? Muhammadiyah Tanggal 21 April, Ini Jadwal Idul Fitri Versi Pemerintah dan NU

Informasi, Regional1222 Views
banner 468x60

TimesAsiaNews.com | Islam – Benar tak lama lagi, umat Islam akan merayakan hari raya Lebaran 2023 atau Idul Fitri 1444 H.

Hari Raya Idul Fitri, atau Lebaran memiliki arti sebagai hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal setelah selesai bulan Ramadan.

Nah pertanyaannya, kapan Lebaran 2023?

Sejauh ini, baru Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang telah menetapkan jadwal Lebaran 2023.

Menurut PP Muhammadiyah, Lebaran 2023 jatuh pada Jumat, 21 April 2023 atau kurang dari 7 hari lagi dari Kamis (13/4/2023) hari ini.

Sementara pemerintah masih menunggu sidang isbat (penetapan) yang akan digelar pada Kamis, 20 April 2023.

Namun merujuk pada SKB 3 Menteri tentang libur nasional dan cuti bersama, libur Lebaran 2023 jatuh pada Sabtu, 22 April 2023 dan Minggu, 24 April 2023. Jadwal Lebaran 2023 Versi Muhammadiyah

Jadwal Lebaran 2023 dari Muhammadiyah merujuk pada ijtimak jelang Syawal 1444 H yang terjadi pada pada Kamis, 20 April 2023, pukul 11.15.06 WIB.

Mengutip keterangan dari Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 1/M/MLM/I.0/2023, tinggi bulan pada saat matahari terbenam di Yogyakarta (f = -07° 48¢ LS dan l = 110° 21¢ BT) = +01° 47¢ 58² (hilal sudah wujud).

“Di seluruh wilayah Indonesia pada saat Matahari terbenam Bulan berada di atas ufuk,” demikian keterangan dalam maklumat tersebut.

Dengan demikian, warga Muhammadiyah akan melaksanakan takbiran pada Kamis, 20 April 2023 malam.

Lantas keesokan harinya, Jumat, 21 April 2023 pagi hari menggelar salat Id di lapangan atau masjid.

Bagaimana dengan jadwal Lebaran 2023 dari pemerintah dan NU? Jadwal Lebaran 2023 Versi Pemerintah

©Menag Yaqut Cholil Qoumas mengumumkan hasil Sidang Isbat Awal Ramadan 1443 H, Rabu (22/3/2023). (Tangkap Layar Youtube)

Seperti biasanya, untuk menentukan jadwal Lebaran 2023, pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) akan menggelar sidang isbat.

Rencananya, sidang isbat (penetapan) 1 Syawal 1444 H atau Lebaran 2023 akan digelar pada Kamis, 20 April 2023 atau satu sebelum warga Muhammadiyah merayakan Lebaran.

Dirjen Bimas Islam Kemenag, Kamaruddin Amin mengatakan dalam kalender hijriyah, 20 April 2023 bertepatan dengan 29 Ramadhan 1444 H.

“(Sidang isbat) tanggal 29 Ramadhan atau 20 April 2023” ujar Kamaruddin, Selasa (11/4/2023), dikutip dari TribunJakarta.com.

Sebelum melaksanakan sidang isbat, Kemenag juga akan menggelar pemantauan hilal di sejumlah lokasi di Indonesia.

Pemantauan hilal atau bulan sabit muda pertama dilakukan untuk menentukan awal bulan, termasuk Syawal.

Jadwal Lebaran 2023 Versi NU

©ket logo NU (ilustrasi)

Selain Kemenag, organisasi Islam lain yang ikut menggelar pemantauan hilal untuk menentukan Lebaran 2023 adalah Nahdlatul Ulama (NU).

Dalam menentukan jadwal Lebaran 2023, NU akan menggelar rukyatul hilal atau pemantauan anak bulan di sejumlah lokasi.

Sehingga biasanya, jadwal Lebaran 2023 versi NU tak berbeda jauh dengan Kemenag.

Ada Potensi Perbedaan

©Seorang petugas melakukan pemantauan hilal untuk dalam menetukan awal Ramadan 1444 H di Masjid Al-Musari’iin Basmol, Kembangan, Jakarta Barat, Rabu, Petang (22/3/2023). (WARTAKOTA/YULIANTO)

Lantaran ada potensi perbedaan kapan Lebaran 2023, Kemenag menunggu hasil isbat terlebih dahulu. “Walau ada potensi perbedaan kita tunggu hasil sidang isbat,” kata Kamaruddin.

Potensi perbedaan jadwal Lebaran 2023 juga pernah disampaikan Ketua PP Muhammadiyah, Syamsul Anwar.

Pasalnya, Kemenag berpedoman pada kriteria Menteri-Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).

Dalam kriteria MABIMS, posisi hilal mencapai ketinggian 3 derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat.

“Potensi perbedaan ada pada awal Syawal karena menurut kriteria MABIMS, bulan bisa dilihat pada tinggi bulan sekurang-kurangnya 3 derajat dan elongasinya 6,4 derajat.”

“Kalau kriteria ini tidak dipenuhi, berarti tidak dapat dilihat, sehingga bulan baru terjadi pada lusa,” kata Syamsul, dikutip dari muhammadiyah.or.id.

Syamsul juga menjelaskan, penetapan awal Syawal 1444 H oleh Muhammadiyah, bukan berdasarkan penampakan bulan.

Melainkan posisi geometris matahari-bumi-bulan atau hisab hakiki wujudul hilal.

Dengan metode hisab hakiki wujudul hilal, lanjut Syamsul, bulan kamariah baru dimulai apabila pada hari ke-29 berjalan saat matahari terbenam terpenuhi tiga syarat secara kumulatif.

Pertama, telah terjadi ijtimak. Kedua, ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam.

Terakhir, pada saat matahari terbenam bulan (piringan atasnya) masih di atas ufuk.

“Metode ini lebih memberikan kepastian dibandingkan dengan cara tradisional yaitu rukyatul hilal,” kata dia.

Pendapat adanya perbedaan jadwal Lebaran 2023 juga diungkapkan pakar astronomi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin.

Menurut Thomas Djamaluddin, perbedaan waktu Lebaran 2023 bukan karena penerapan metode hisab dan rukyat dari masing-masing organisasi dan pemerintah, tetapi karena perbedaan kriteria. “Muhammadiyah dengan kriteria wujudul hilal yaitu 21 April 2023. Pemerintah dan beberapa ormas Islam, seperti NU dan Persis (Persatuan Islam), dengan kriteria imkan rukyat (visibilitas hilal) yaitu 22 April 2023,” kata Thomas Djamaluddin dikutip dari Tribun-Timur.com.

Hal serupa juga pernah dituliskan Thomas Djamaluddin dalam blog pribadinya, seperti dikutip Tribunnews.com pada Rabu (8/2/2023).

Thomas Djamaluddin menulis, pada saat maghrib tanggal 20 April 2023 di Indonesia, posisi bulan belum memenuhi kriteria baru MABIMS.

Namun, sudah memenuhi kriteria wujudul hilal.

“Jadi ada potensi perbedaan: Versi [3-6,4/MABIMS] 1 Syawal 1444 pada 22 April 2023, tetapi versi [WH/wujudul hilal] 1 Syawal 1444 pada 21 April 2023,” tulisnya.

Hal serupa juga disampaikan peneliti BRIN lainnya, Andi Pangerang.

Ia mengatakan 1 syawal 1444 H diperkirakan jatuh pada Sabtu, 22 April 2023.

“Untuk perkiraan Idul Fitri atau 1 Syawal 1444 Hijriah diperkirakan akan jatuh pada hari Sabtu Pon, 22 April 2023,” kata Andi dikutip dari Bangka Pos.

Andi membeberkan bahwa sudut ketinggian bulan yang diukur di atas ufuk masih kurang 3 derajat.

Atau lebih tepatnya ketinggian hilal di Indonesia itu bervariasi antara 1,3-2,5 derajat di atas ufuk.

Selain itu, ada juga elongasinya masih diantara 2,25-3,75 derajat sehingga belum memenuhi kriteria MABIMS.

“Sehingga hilal pada 20 April pada petang besok itu agak sulit diamati bahkan menggunakan alat bantu seperti teleskop,” tambah Andi.

(*/tribune/tanews).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *