TimesAsiaNews.com | Kepulauan Riau – Pemerintah Kota Batam terus melakukan pengembangan Terminal II Bandara Internasional Hang Nadim Batam dan sudah melakukan groundbreaking atas pembangunan bandara yang dapat menampung 9,8 Juta penumpang tersebut.
Di sisi lain, ikon maupun filosofi hasil pembangunan akan mempengaruhi dan terpampang jelas dengan kultur budaya lokal.
Dikabarkan Pemerintah Kota Batam akan menggunakan ikon Terminal II Bandara Internasional Hang Nadim Batam dengan lambang Ikan Marlin.
Menanggapi hal tersebut, peneliti BRIN sekaligus sejarawan Provinsi Kepulauan Riau, Dedi Arman, mengatakan ikan marlin bukanlah kearifan lokal di Kota Batam bahkan Melayu. Ia meminta pemerintah tidak memaksakan sesuatu menjadi ikon, apalagi ikon itu milik daerah lain.
Sebelumnya ikan marlin menjadi satu motif yang terdapat pada pembangunan Terminal II Bandara Internasional Hang Nadim Batam selain motif Elang. Pikri Ilham Kurniansyah, Direktur PT Bandara Internasional Batam atau BIB sebagai pengelola Bandara Internasional Hang Nadim Batam menegaskan, burung elang, ikan marlin, hingga gonggong jadi motif karena kearifan lokal Batam.
“Kami berharap kedepan walaupun (bandara ini) bertaraf internasional, kearifan lokalnya tetap ada,” kata Pikri dalam acara groundbreaking Terminal II Bandara Hang Nadim Internasional Batam, beberapa waktu lalu.
Namun menurut Dedi Arman ikan marlin bukanlah kearifan lokal. “Saya tidak melihat ikan marlin sebagai kearifan lokal, jangan melakukan pembenaran sejarah, budaya dengan sesuatu yang tidak lumrah, atau tidak familiar bagi masyarakat Batam bahkan Melayu,” kata Dedi mengutip Tempo. Selasa (4/5/2024).
Menurut Dedi yang dimaksud kearifan lokal bisa dilihat dalam dua hal, pertama dilihat dari kondisi faktual masa kini apakah objek yang dimaksud masih ada atau masih berkembangkah di suatu daerah itu. Kedua, sesuatu bisa dikategorikan kearifan lokal jika objek yang dimaksud ada atau tidak dalam folklore cerita rakyat dalam dunia melayu khususnya Kepri. “Apakah ikan marlin bisakah dilihat dalam dua hal itu?” tanya Dedi.
Lebih lanjut Dedi menjelaskan, salah satu acuan cara melihat kearifan lokal bisa dari syair atau pantun Melayu di naskah-naskah kuno Kerajaan Riau Lingga, tidak pernah ditemukan pantun atau syair lama yang menggunakan kata ikan marlin.
“Acuan kitakan bisa melihat naskah-naskah masa kerajaan Riau Lingga, ikan-ikan yang ada namanya yang familiar sampai ini ada di dalam pantun, atau syair Melayu itu,” kata Dedi yang juga peneliti sejarah jebolan Ilmu Sejarah Universitas Andalas atau UNAND itu.
Baca Juga:
Terminal II Bandara Internasional Hang Nadim Batam Resmi Dibangun, Kapasitas 9,6 Juta Penumpang
Malahan kata Dedi, dalam syair Melayu yang sering dijumpai adalah ikan Tamban yang identik dengan Dabo Singkep Kabupaten Lingga, Ikan Tongkol di Natuna, hingga ada Ikan Manyuk di Anambas. “Sampiran pantun melayu sering menggunakan kata-kata ikan,” katanya. Dedi mencontohkan sebait pantun berbunyi:
ikan parang, ikan perigi, ikan pelate,
gemparlah orang satu negeri, melihat beruk pakai senjata..
“Itulah sampiran pantun melayu, ikan-ikan yang ada di perairan Kepri, yang akrab di dunia Melayu,” ungkapnya.
Baca Juga:
Kemenhub Terbitkan Surat Edaran Penyesuaian SIUPPAK Menjadi Usaha Keagenan Awak Kapal
Kata Dedi, jangan sampai ikan marlin dipaksakan menjadi motif pembangunan bandara dengan menganggap itu adalah kearifan lokal, apalagi ikan marlin adalah ikonnya daerah lain yaitu Pangandaran.
“Pangandaran udah sejak dulu canangkan ikan marlin jadi ikon daerah mereka,” kata penulis buku “Orang Darat di Pulau Rempang, Tersisih Dampak Pembangunan Kota Batam”. **(temp/tans)








