TimesAsiaNews.com | Batam – Akhinya Jembatan Batam-Bintan (Babin) yang direncanakan akan dibangun sepanjang 14,74 Km terbagi menjadi 7,68 km jembatan dan 7,06 km jalan tol.
Diketahui pembagian pembiayaannya mencakup 7,98 km untuk porsi Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) (Pulau Bintan-Pulau Tanjung Sauh) dan 6,76 Km untuk porsi dukungan pemerintah (Pulau Tanjung Sauh-Pulau Batam) yang akan bersumber dari pinjaman luar negeri.
Untuk skema pembiayaan pembangunan jembatan ini tercantum dalam Final Business Case yang telah disusun oleh Ditjen Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan.
Sementara itu, proses konsiliasi antara pemerintah dengan para pemilik lahan sudah hampir selesai, hanya tinggal 1 persil lahan lagi yang masih belum terselesaikan.

Sejauh ini pembangunan Jembatan Batam-Bintan (Babin) sudah mulai dilakukan. Hal ini diungkapkan Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad saat berada di Kota Batam.
Proses pembangunan masih pada tahap penyelidikan tanah atau penyelidikan kedalaman laut (soil investigation).
Ia menuturkan dibutuhkan 20 titik soil investigation. Proses penyelidikan tersebut membutuhkan waktu sekitar 10 bulan.
“Kita hitung, total biaya untuk kegiatan soil investigation ini mencapai Rp 50 miliar, dan dibiayai oleh pemerintah pusat, awalnya dibebankan kepada pemerintah provinsi tapi karena kita tidak punya duit maka akhirnya pemerintah pusat yang membiayai,” kata Ansar di Batam, Senin (30/1/2023) lalu.
Setelah tahap soil investigation maka tahap selanjutnya yaitu pembangunan fisik jembatan sudah dapat dimulai.
Rencananya, ground breaking (peletakkan batu pertama) akan dilakukan oleh Presiden RI, Joko Widodo.
“Perkiraan ground breaking dilakukan pada akhir tahun 2023 atau awal tahun 2024,” katanya.
Untuk pembangunan fisik jembatan, Ansar memperkirakan memakan waktu 2-3 tahun. Dengan menghabiskan dana Rp 14,3 triliun. (trib/asianews)








