TimesAsiaNews.com | Italia – Akhirnya sebuah naskah berisi cara kerja alat astronomi kuno berhasil diterjemahkan setelah lebih dari 200 tahun percobaan.
Dan naskah tersebut diyakini sebagai catatan Ptolemy yang hilang. Isinya tersembunyi dalam salinan Etymologiae, atau ensiklopedia etimologis Uskup Spanyol.
Ternyata Claudius Ptolemy merupakan ahli matematika dan astronom Mesir kuno keturunan Yunani yang berasal dari abad pertama Masehi.
Dan kini naskah yang diduga sebagai Catatan Ptolemy ini berhasil diterjemahkan menggunakan teknologi fluoresensi UV dan pencitraan multispektral. Catatan ini berisi informasi tentang Meteoroscope dan cara menggunakannya.
Sembilan cincin
Meteoroscope merupakan alat berbentuk serangkaian cincin besar saling menyatu satu sama lain. Alat ini digunakan oleh astronot zaman kuno untuk mempelajari bintang dan jarak.
Cara menggunakannya cukup memiringkan sesuai kebutuhan.
Meteoroskop digunakan untuk banyak hal, termasuk untuk memprediksi ekuinoks atau titik balik matahari serta memastikan garis lintang seseorang dan lokasi sebuah planet. Terdapat sembilan cincin di meteoroskop.
Cincin-cincin itu memiliki nama-nama berbeda yaitu Bearer, Hektemoros, Horizon, Meridian, Revolver, Zodiac, Astrolabe, Tegak, dan All-Tilter. Noda coklat tua Namun, apakah benar naskah ini ditulis oleh Ptolemy masih menjadi perdebatan. Beberapa halaman penting naskah ini hilang sehingga ahli tidak bisa menemukan nama penulis.
Naskah yang dianggap sebagai Catatan Ptolemy ini baru diterjemahkan setelah lebih dari 200 tahun sejak penemuannya.
Catatan Ptolemy ditemukan pada 1819 oleh seorang kardinal Katolik Roma bernama Angelo Mai. Penerjemahan catatan ini dilaporkan sangat sulit. Pertama, ahli harus menulis kembali isinya di atas perkamen kuno.
Kedua, salah satu halaman manuskrip ini digunakan untuk menyalin manuskrip lain bernama Etymologiae. Terakhir, ada orang yang mencoba membersihkan lembaran manuskrip dengan reagen, namun hanya menambah noda coklat tua di atas tulisannya. (*/merdekat/tanews).














