Braen: Apakah Termasuk Seni dalam Islam? Doa yang Disatukan!

Khazanah484 Views
banner 468x60

TimesAsiaNews.com | Seni yang islami adalah seni yang menggambarkan wujud dengan bahasa yang indah serta sesuai dengan fitrah. Seni Islam adalah ekspresi tentang keindahan wujud dari sisi pandangan Islam tentang alam, hidup dan manusia yang mengantar menuju pertemuan sempurna antara kebenaran dan keindahan.

Braen merupakan sebuah sarana dakwah bagi masyarakat Jawa Tengah yang berisi dalil-dalil atau hujjah-hujjah. Masyarakat setempat mengenal braen sebagai seni penyuwunan atau seni doa permohonan.

Oleh karena itu, masyarakat setempat menggunakan braen sebagai sarana untuk memohon pertolongan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keberadaan braen bahkan hampir sejajar dengan tradisi sholawat an (membaca selawat) atau Perjanjen (Al-Barzanji).

Mengutip dari warisanbudaya.kemdikbud.go.id, nama ‘braen’ berasal dari kata ‘birai’, yakni semangat. Braen juga berasal dari kata dalam bahasa Arab, yakni ‘baroghin’ yang bermakna dalil, tanda, atau hujjah.

Karena termasuk sebagai seni permohoan, braen hanya dimainkan pada saat tertentu. Permohonan dalam seni braen diucapkan dengan cara dilagukan atau dinyanyikan.

Doa permohonan ini dipimpin oleh seorang perempuan yang diberi gelar Rubiyah. Perempuan yang mendapat gelar ini adalah keturunan Syekh Makhdum Hussein.

Kesenian braen juga merupakan pencampuran budaya Islam dan Budaya Jawa. Unsur budaya Jawa pada braen terlihat pada penggunaan sesaji atau sajen sebagai perlengkapan ritual.

Bagi masyarakat setempat, sesaji merupakan suatu bentuk menghormati dan menghargai leluhur. Sesaji tersebut umumnya berupa alat pedupan (tempat untuk membakar kemenyan), kemenyan (untuk dibakar dalam pedupan), minyak wangi, kelapa hijau muda, air dingin, rokok menyan atau cengkeh, tumpeng, kembang boreh, telur ayam, dan uang.

Sementara itu, unsur Islam dalam braen terlihat pada syairnya yang mengandung nilai-nilai Islam, seperti ketauhidan, sejarah, dan pendidikan Islam. Selain itu, braen juga berisi doa dalam bentuk syair.

Syair pada braen pun dilantunkan dalam empat bahasa, yaitu bahasa Jawa, bahasa Arab, bahasa Melayu, dan bahasa Sunda. Braen masih dimainkan dan dilestarikan hingga saat ini, terutama pada Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. (lip6/tanews)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *