Taiwan Tawarkan Dialog dengan China, Lai Ingin Perkuat Wilayahnya

Asia1927 Views
banner 468x60

TimesAsiaNews.com | TaipeiTaiwan menginginkan perdamaian dan berdialog dengan Tiongkok (China), di samping itu pemerintah Taiwan juga harus terus memperkuat pertahanan di wilayah pulau itu, demikian yang disampaikan oleh Presiden Lai Ching-te, pada Selasa (20/5) saat genap satu tahun masa jabatannya.

Satu sisi, China menyebut Lai sebagai “separatis” dan telah menolak berbagai tawarannya untuk berunding. Menurut China, Lai menolak klaim kedaulatan Tiongkok atas pulau yang demokratis yang memiliki pemerintahan terpisah itu, sementara Lai juga mengatakan bahwa hanya rakyat Taiwan yang dapat memutuskan masa depan mereka.

Pemerintah Taiwan telah memperingatkan bahwa Beijing dapat memperingati hari jadinya dengan latihan militer, namun saat berbicara kepada media di kantor kepresidenan di Taipei, Lai menyampaikan pesan perdamaian.

“Saya juga berkomitmen pada perdamaian. Karena perdamaian tak ternilai harganya dan perang tidak mengenal pemenang. Namun, dalam hal mencari perdamaian, kita tidak boleh bermimpi atau berilusi,” kata Lai, mengutip Reuters, pada Rabu (21/5/2025).

Taiwan akan terus memperkuat pertahanannya, karena mempersiapkan perang adalah cara terbaik untuk menghindarinya. “Saya juga tegaskan di sini, Taiwan senang melakukan pertukaran dan kerja sama dengan Tiongkok selama ada rasa saling menghargai. Menggunakan pertukaran untuk menggantikan sikap mengekang, dialog untuk menggantikan konfrontasi,” tambahnya.

Kantor Urusan Taiwan di Tiongkok menyebut pidato Lai tersebut sebagai “taktik bermuka dua” yang merupakan “usaha yang sia-sia dan pasti gagal.”

“Apa pun yang dikatakan pemimpin wilayah Taiwan atau bagaimanapun mereka mengatakannya, hal itu tidak dapat mengubah fakta bahwa Taiwan adalah bagian dari Tiongkok, dan tidak dapat menghentikan tren penyatuan kembali nasional yang tak terelakkan,” kata juru bicara kantor tersebut, Chen Binhua, dalam sebuah pernyataan.

Pekan lalu, Kementerian Pertahanan Tiongkok mengatakan, Lai adalah “pembuat krisis Selat Taiwan” yang telah meningkatkan permusuhan dan konfrontasi serta merusak perdamaian dan stabilitas.

Sementara itu Lai juga menghadapi tantangan dari kemungkinan tarif AS, yang saat ini sedang ditunda. Lai juga mengatakan pembicaraan dengan Washington terus berlanjut “lancar.”

Taiwan juga berencana untuk mendirikan dana kekayaan kedaulatan untuk meningkatkan ekonomi yang berfokus pada teknologi. “Pemerintah akan mendirikan dana kedaulatan untuk menciptakan platform investasi nasional, memanfaatkan sepenuhnya kekuatan industri Taiwan, dan bekerja sama dengan kekuatan perusahaan swasta,” kata Lai kembali.

Setelah melakukan konferensi pers, Lai menghadiri upacara pembukaan pameran dagang Computex yang sedang berlangsung, di mana Nvidia (NVDA.O), Jensen Huang kelahiran Taiwan, CEO dari perusahaan AI di sana membuka gerai baru.

Baca Juga:

Taiwan Hadapi Hujan Lebat dan Badai Petir, CWA: Waspada Banjir Lokal Meski Jangka Pendek

Lai mengunjungi stan pemasok mitra Nvidia, termasuk Foxconn (2317.TW), Mediatek (2454.TW), yang juga membuka tab atau gerai baru dan berbincang dengan para eksekutif senior di sana.

Diberitakan sebelumnya, pada bulan lalu, China menggelar latihan perang dengan nama sandi “Strait Thunder-2025A” di sekitar Taiwan, dengan huruf “A” di belakangnya yang mengisyaratkan kemungkinan akan ada latihan perang lainnya.

Baca Juga:

Taiwan Awasi 34 Pesawat China, 27 Melintasi dan Masuk Garis Tengah

China menamakan latihan perangnya pada bulan Mei 2024 tepat setelah Lai menjabat sebagai “Pedang Gabungan-2024A”, dan pada bulan Oktober tahun itu menggelar “Pedang Gabungan-2024B”.

Dalam laporan harian, Kementerian Pertahanan Taiwan mengatakan dalam 24 jam terakhir pihaknya telah mendeteksi enam pesawat dan 11 kapal China di dekat pulau itu. Menandakan aktivitas militer China di sana pada waktu tersebut. *

(reuters/tan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *