TimesAsiaNews.com | Sydney – Gelombang protes keras terjadi di Australia, warga mengecam tindakan polisi secara brutal mengusir jamaah Muslim saat sedang melaksanakan shalat berjamaah di tengah aksi protes terhadap kunjungan Presiden Israel, Isaac Herzog, ke Sydney. Tindakan tersebut tentunya dapat memicu sensivitas keamanan Australia.
Dewan Imam Nasional Australia (ANIC) Anadolu, mengecam keras tindakan yang dilakukan oleh pihak kepolisian Australia.
“Rekaman terbaru umat Muslim yang sedang shalat di kota saat protes terhadap kunjungan Presiden Israel yang mengerikan, yang didorong dan dipindahkan secara paksa oleh polisi saat sedang berdoa, sangat mengejutkan, sangat merusak, dan sama sekali tidak dapat diterima,” kata Anadolu menegaskan. Selasa (10/2/2026).
Dalam pernyataan yang dibagikan di akun X, Dewan tersebut mengatakan polisi seharusnya tidak “mengganggu ibadah keagamaan atau memperburuk situasi yang sudah sensitif.”
Dewan tersebut menambahkan bahwa mereka sangat marah dengan rekaman ini dan telah menyampaikan kekhawatiran yang mendesak dan serius langsung kepada Komisaris Polisi NSW dan menteri terkait.
“Pemerintah NSW dan Perdana Menteri Chris Minns harus bertanggung jawab atas tindakan ini dan memastikan akuntabilitas di tingkat tertinggi,” ujar Dewan.
Polisi dan demonstran bentrok ketika ribuan orang turun ke jalan di seluruh Australia untuk memprotes kunjungan Presiden Israel Isaac Herzog.
Dalam rekaman video yang beredar polisi tidak menghiraukan ucapan dari jamaah bahkan dari masyarakat yang melihat dan merekam kejadian tersebut. “Apa yang Anda lakukan, mereka sedang shalat,” sebut warga dalam rekaman video.
Menurut harian Sydney Morning Herald, Asisten Komisaris Polisi NSW Peter McKenna membela petugas yang terlihat dalam rekaman media sosial selama melakukan kekerasan dengan para demonstran.
“Saya benar-benar berpikir tindakan polisi malam ini dibenarkan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa hampir 6.000 orang menghadiri protes di Sydney dan polisi menangkap 27 orang.
Herzog berada di Australia dalam kunjungan resmi, sementara polisi, keamanan Israel, dan penembak jitu membuntuti setiap gerak-gerik presiden Israel dan istrinya sejak ia mendarat di Sydney untuk bertemu dengan komunitas Yahudi setelah serangan teror Bondi pada bulan Desember.
Komisi penyelidikan khusus Dewan Hak Asasi Manusia PBB tentang perang di Jalur Gaza menemukan tahun lalu bahwa Israel melakukan genosida dan mengatakan komentar yang dibuat oleh Herzog setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, merupakan bukti niat genosida.
Baca Juga:
Tren Baru Imlek di China, Gunakan Karakter Serial Harry Potter sebagai Dekorasi
Israel melancarkan serangan militer di Gaza pada Oktober 2023. Lebih dari 72.000 warga Palestina tewas dan lebih dari 171.000 terluka, menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sementara sekitar 90% infrastruktur Gaza hancur.
Meskipun gencatan senjata telah diberlakukan, tentara Israel terus melanggarnya, menewaskan 576 warga Palestina dan melukai 1.543 lainnya, kata kementerian tersebut.
***
(minanews/rep/tan)








