TimesAsiaNews.com | Selatpanjang, Kepulauan Meranti – Aktivis Peduli Pangan Kepulauan Meranti melakukan dialog bersama DPRD Kabupaten Meranti, mereka menyampaikan pesan dari Masyarakat Meranti terkait isu kelangkaan beras di Kepulauan Meranti. Bertempat di Gedung DPRD Kabupaten Meranti. Senin (25/8/2025).
Rombongan aktivis tersebut diterima langsung oleh Wakil Ketua DPRD, Antoni Sidharta dan Ketua Komisi 2, Syafie Hasan, di lantai 1. Mereka mengadakan hearing atau dengar pendapat bersama para aktivis yang ketuai oleh Rita Mariana.
Dalam diskusi hearing tersebut juga dihadiri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), serta Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kepulauan Meranti.
Rapat dibuka oleh Wakil ketua DPRD. Ia mengatakan: “Berdasarkan surat yang kami terima dari aktivis Meranti Peduli Pangan, kami melihat ada isu yang teman-teman mau sampaikan terkait dengan isu kelangkaan sembako, diantaranya persoalan antisipasi kelangkaan sembako di Kepulauan Meranti, ditambah sembako dari Kepri (Kepulauan Riau) tidak dapat masuk,” ungkapnya.

Antonio juga mengatakan, bahwa dalam surat tersebut juga meminta kepada DPRD Kepulauan Meranti dan Pemerintah Daerah (Pemda) agar menyurati kementrian terkait, agar persoalan di atas tidak terulang kembali.
Antoni juga memberikan apresiasi kepada para aktivis atas langkah-langkah yang mereka lakukan untuk kepentingan masyarakat banyak.
“Kepada kawan-kawan aktivis, terima kasih yang telah menyurati, berkunjung dan beraudensi dengan kami, dan perlu kami sampaikan beras di Kepulauan Meranti, Alhamdulillah, sudah stabil dan sudah mulai masuk secara normal di minimarket dan warung sekitaran Meranti,” pungkasnya.
Di samping itu, Wakil Ketua Komisi 2, Mulyono, juga menyampaikan, menurutnya letak geografis Meranti beda dengan kabupaten lainya, seperti Dumai dan lain-lain, yang berada di Riau daratan, lebih mudah masuk beras, karena akses dari Sumbar (Sumatera Barat).
“Sementara Meranti hanya ada beberapa agen distributor, terutama dari kalangan masyarakat/warga keturunan (Tionghoa) itupun harus melalui jalur laut. Yang jadi persoalan lagi, jalur laut itu kadang harus ada kelengkapan dokumen dan lain-lain, terutama beras dari Kepri,” katanya.
Sementara itu, Rita Mariana selaku Ketua Aktivis Peduli Pangan Meranti bersama anggota aktivis lainnya menyampaikan maksud dan tujuan mereka berdialog.
“Izin Pak Wakil Ketua dan Bapak Anggota DPRD, jumlah penduduk meranti sebanyak 211.791 jiwa, dengan jumlah Kepala Keluarga 63.000, kira-kira dengan masuknya beras 50 ton dalam beberapa hari ini mampu tidak memenuhi kebutuhan diatas,? Dan yang ingin kami tanyakan lagi, apakah program pangan murah ini berkelanjutan atau hanya diadakan diwaktu ini saja.? Mohon dijawab Pak Ketua,” ringkasnya.
Pada waktu yang sama, Muzakar Salim, selaku inisiator rapat juga menyatakan bahwa masyarakat Meranti termasuk masyarakat termiskin di Provinsi Riau.
“Dengan angka kemiskinan 44.340 jiwa atau 23,15% dari total penduduk, kami berharap persoalan sembako dapat teratasi dengan baik termasuk akses masuk dari Kepri, seperti bawang, cabai kering, gula dan beras. Mohon Pak Ketua dan Bapak Anggota DPRD, ini menjadi perhatian kita bersama,” tegasnya.
Begitu juga Hendri dari Fabem menyampaikan, DPRD harus proaktif dan terus membuka diri dengan aktivis terutama tentang isu daerah.
Hal senada, Junizan dan Raidila juga berpendapat dan mengusulkan HET (Harga Eceran Tertinggi) harus benar-benar merata. “Sembako di Meranti harus normal kembali harganya termasuk cabai dan bawang,” pintanya.
Baca Juga:
Kepala Plh. Desprindag, Miftah, mengatakan bahwa beras dari Bulog terus berdatangan, dan hari ini, katanya, minimarket di Kepulauan Meranti sudah banyak beras. Kata Miftah, Bulog berencana membangun gudang di Kepulauan Meranti.
Jani Pasaribu bersama Fauzi, Anggota Komisi 2 DPRD juga menyambut baik niat kawan-kawan dalam menyampaikan aspirasi, dan meminta akses jalan dan dermaga penunjang gudang Bulog diatasi dengan baik untuk kedepannya.
Jelang sesi akhir dialog tersebut, Rita Mariana menyampaikan apresiasi gerak cepat terhadap Bupati Asmar, dalam menyurati Bulog, dan terus bekerja keras untuk mengatasi kelangkaan sembako. “Semoga ini awal yang baik dan tidak terulang kelangkaan lagi,” tutup Rita Mariana. *(red)








