TimesAsiaNews.com | Kashmir – Sebelumnya pada tahun 2019 India dan Pakistan pernah terjadi konfrontasi militer, Amerika Serikat (AS) telah mendeteksi adanya pergerakan persenjataan nuklir kedua negara. Hal tersebut membuat menteri luar negeri AS Mike Pompeo (2018-2019) merasa khawatir, sehingga melakukan panggilan telepon ke masing-masing negara sehingga bentrokan tersebut mereda.
Namun enam tahun kemudian, kedua negara Asia Selatan yang bermusuhan itu kembali terlibat dalam konflik militer setelah serangan teroris mematikan terhadap wisatawan di Kashmir yang dikuasai India. Disinyalir ada unsur aliansi militer yang dibentuk di kawasan itu.
Melansir TheNewYorkTimes, pada Sabtu (10/5) bahwa aliran senjata kedua negara itu menggambarkan penyelarasan baru di Asia, di mana ada tiga kekuatan nuklir seperti India, Pakistan, dan Cina berdiri dalam jarak yang tidak nyaman di dalam satu benua dan satu daratan.
India, negara yang secara tradisional tidak memihak dan telah menyingkirkan sejarah keraguannya terhadap AS, telah membeli peralatan senilai miliaran dolar dari AS dan pemasok Barat lainnya. Pada saat yang sama, India telah secara drastis mengurangi pembelian senjata berbiaya rendah dari Rusia, sekutunya di era Perang Dingin.
Pakistan, yang relevansinya dengan AS telah memudar sejak berakhirnya perang di Afghanistan, tidak lagi membeli peralatan Amerika yang dulu pernah didorong oleh negeri Paman Sam itu untuk dibeli, Pakistan malah beralih ke China.
Hubungan Politik Negara Adidaya ke dalam Konflik Terpanjang dan Paling Sulit Diatasi di Asia Selatan
Amerika Serikat telah menjadikan India sebagai mitra dalam melawan China, sementara Beijing telah memperdalam investasinya dalam advokasi dan perlindungannya terhadap Pakistan seiring dengan semakin dekatnya India dengan Amerika Serikat.
Pada saat yang sama, hubungan antara India dan China telah memburuk dalam beberapa tahun terakhir karena klaim teritorial yang saling bersaing, dengan bentrokan yang terjadi antara kedua militer pada waktu-waktu tertentu. Dan hubungan antara dua kekuatan terbesar dunia, Amerika Serikat dan China, telah mencapai titik terendah karena Presiden Trump telah melancarkan “perang dagang” terhadap Beijing.
Baca Juga:
Konflik India dan Pakistan Pecah, Pemimpin Dunia: Eskalasi Mengerikan
Pertikaian yang mudah meledak ini menunjukkan betapa rumit dan berantaknya aliansi seiring dengan retaknya tatanan global pasca-Perang Dunia II. Ketidakstabilan ini diperparah oleh sejarah Asia Selatan yang sering terjadi konfrontasi militer, dengan angkatan bersenjata di kedua belah pihak yang rentan melakukan kesalahan, sehingga meningkatkan risiko eskalasi yang bisa menjadi tidak terkendali.
“AS sekarang menjadi pusat kepentingan keamanan India, sementara China semakin memainkan peran yang sebanding di Pakistan,” kata Ashley Tellis, mantan diplomat yang merupakan peneliti senior di Carnegie Endowment for International Peace, dikutip dari laman TheNewYorkTimes. **
(tnyt/tan)














