Kisah Sukses Elin Waty Presiden Direktur Sun Life Financial Indonesia

banner 468x60

TimesAsiaNews.com | Jakarta – Inilah kebiasaan sehari-hari Tegas, berwibawa, namun tetap hangat dan ramah adalah kesan pertama yang didapatkan awak media saat melakukan wawancara virtual bersama Presiden Direktur Financial Indonesia, Elin Waty.

Walaupun sudah menduduki jabatan yang tinggi, namun Elin memiliki pembawaan yang santai. Karena pembawaannya yang demikian, tak heran banyak orang kerap berbagi cerita dan pengalaman seputar karier dengan beliau.

Adapun sosok Elin sendiri yang telah malang melintang di Industri Asuransi selama 27 tahun lebih. Ia memulai kariernya di bidang asuransi sejak 1994, dari level paling bawah. Sepanjang kariernya, Elin juga sudah memegang berbagai bidang; mulai dari Training, Sales, Distribution, Marketing, Operation, hingga Project Management.

Singkat cerita, Elin bergabung dengan Sun Life Financial Indonesia pada 2013 sebagai Chief Distribution Officer (CDO). Dua tahun kemudian, tepatnya pada 2015, Elin mendapat tawaran sebagai Chief Executive Officer (CEO) Sun Life Financial Indonesia. Namun, tawaran itu kabarnya sempat ditolak Elin karena ia merasa ragu dengan kemampuannya.

“Saya agak ragu karena saya orang Indonesia pertama yang meraih posisi ini. Saya bertanya kepada diri sendiri kira-kira saya bisa enggak ya. Karena saya enggak mau kalau nanti saya gagal, terus mereka punya perspektif bahwa orang Indonesia tidak bisa jadi CEO,” kata Elin Waty, saat di wawancara oleh awak media saat itu.

Di sadur dari, Kumparan media, setelah itu, Elin pun berpikir panjang sampai akhirnya ia dihubungi oleh CEO Sun Life Financial di Toronto, Kanada.

Setelah itu Elin berpikir panjang sampai akhirnya ia dihubungi oleh CEO Sun Life Financial di Toronto, Kanada.

“Elin kesempatan itu tidak pernah datang di saat yang tepat, kesempatan itu bisa datang lebih cepat atau lebih lambat. Kamu enggak akan pernah tahu kesempatan itu akan datang atau tidak,” ucap CEO Sun Life Financsial di Toronto Kanada.

“Jadi kita enggak akan menawarkan kesempatan ini kalau kita enggak yakin kamu bisa berhasil’,” tegasnya.

Sejak saat itulah, Elin pun yakin untuk menerima posisi CEO Sun Life Financial Indonesia. Elin juga menjadi perempuan sekaligus orang Indonesia pertama yang memimpin Sun Life Financial Indonesia.

“Saya ini real story anak daerah, datang dari keluarga biasa-biasa saja, sekolah juga lulusan dari Indonesia, enggak punya koneksi siapa-siapa. Real story bahwa kalau kamu mau, sebenarnya bisa. Yang penting kamu mau atau enggak,” papar Elin.

Di tengah kesibukannya bekerja, Elin dengan senang hati meluangkan waktunya untuk berbincang dengan kumparanWOMAN dan menjawab pertanyaan kami secara virtual.

Kepada awak media ibu dari dua anak ini menceritakan banyak hal. Mulai dari perjalanan kariernya selama 27 tahun lebih di industri asuransi, prinsip hidup dan gaya kepemimpinan yang dipegang teguh.

Selain itu, Elin juga bercerita tentang buku yang belum lama ini ia luncurkan berjudul Segelas Kopi dan Segudang Cerita Karier.

Buku itu disebut menuangkan sejumlah persoalan karier yang kerap dihadapi oleh karyawan dan menawarkan solusi yang dikemas dengan gaya bahasa yang ringan dan sederhana, namun sarat akan pesan optimisme, motivasi, serta semangat untuk pantang menyerah.

Seperti apa percakapan kami dengan Elin? Simak perbincangan hangat dan insightful kami bersama Elin Waty berikut ini!

Apa yang menjadi inspirasi Anda untuk merilis buku Segelas Kopi dan Segudang Cerita Karier? Kenapa diberi nama demikian?

Elin Waty (EW): Jadi sebenarnya buku ini timbul dari sebuah isu. Saya itu suka minum kopi pahit. Selain itu, saya juga punya passion yang sangat besar, kalau saya ngopi saya suka mengajak karyawan untuk mengobrol dan bertanya tentang apa saja.

Termasuk menceritakan masalah (karier) yang mereka hadapi. Dari percakapan itulah saya berpikir bahwa isu dan tantangan yang dialami generasi produktif terutama milenial itu sebenarnya hampir kurang lebih sama.

Singkat cerita, selama pandemi ini saya sedikit menderita karena kegiatan dibatasi dan tidak bisa ngopi bareng dengan teman-teman. Karena itu, selama pandemi saya pun mencoba menulis buku ini. Awalnya saya masih ragu, jadi saya bagikan satu atau dua cerita ke orang-orang berbeda.

Terus saya tanya pendapat mereka gimana, dan teman-teman bilang bahwa ceritanya bagus karena sangat ringan namun banyak hal yang bisa dipelajari dari situ.

Buku ini kalau dibaca per bagian itu sifatnya kayak konvensional, seperti saya sedang bersosialisasi dengan rekan-rekan yang lain. Jadi itulah kenapa judulnya Segelas Kopi dan Segudang Cerita Karier. Karena biasanya kalau lagi ngopi kan cerita-cerita ya.

Butuh waktu berapa lama Anda menulis buku tersebut, hingga akhirnya resmi dipasarkan ke publik?

EW: Cukup lama, mungkin ada sembilan bulan sampai bukunya selesai. Selama sembilan bulan itu, saya menulis 20 cerita berbeda tentang permasalahan karier yang kerap dihadapi karyawan.

Cerita-cerita itu cukup beragam, misalnya sudah kerja lama tapi tidak dapat promosi, lalu ada juga yang bercerita bahwa ia tidak tega meninggalkan anak tapi tetap mau berkarier namun tidak tahu caranya balance antara pekerjaan dan keluarga. Secara general ceritanya itu, tapi ada juga yang cerita bahwa dia anak daerah dan tak tahu bagaimana bisa berkarier di Ibu Kota.

Jadi intinya, semua cerita-cerita ini saya dengar dari keluhan teman-teman. Saya ingin mencoba memberi jalan keluar, sekaligus memberikan perspektif yang berbeda. Selain itu, memberi solusi apa yang harus mereka lakukan.

Buku itu disebutkan memuat sejumlah persoalan karier yang kerap dihadapi oleh karyawan. Namun, dari persoalan karier yang dimuat di buku tersebut, adakah yang berasal dari pengalaman pribadi?

EW: Ada, itu cerita terakhir yang ada di buku merupakan cerita tentang saya. Ceritanya lebih ke kesempatan ketika saya ditawarkan untuk menjadi CEO, namun saya sempat ragu untuk mengambilnya.

Elin Waty, Presiden Direktur Sun Life Financial Indonesia Foto:

Sudah menjadi leader sejak usia muda, apa saja hambatan atau tantangan yang kerap Anda hadapi saat memimpin di usia yang tergolong masih muda?

EW: Saya sudah menjadi training manager di usia 25 tahun. Menurut saya tantangan yang kerap dihadapi itu arogansi, karena merasa seperti ‘saya sudah jadi leader nih’. Selain itu, saya juga lebih emosi dan enggak sabaran.

Tantangan terbesar lain adalah dari sendiri, kenapa? Karena once kita jadi leader, kita harus yakini bahwa kita bukan bos, tetapi kita itu adalah server.

Maksudnya, kita harus serve orang lain. Terus, job juga bukan ke diri kita lagi tapi bagaimana bisa men-develop tim. Ini akan dipelajari seiring berjalannya waktu. Tetapi kalau masih muda, ego kita masih tinggi dan emosinya juga masih tinggi. Kita masih ingin menunjukkan eksistensi kita.

Dalam memimpin tim sekaligus menavigasi perusahaan, Anda kabarnya menerapkan pola caring leadership. Boleh dijelaskan seperti apa pola tersebut? Bagaimana cara Anda menerapkan pola itu terhadap karyawan?
EW: Menurut saya, caring leadership bukan berarti saya enggak bisa marah sama teman-teman kalau mereka salah, bukan berarti saya tidak bisa galak sama mereka, tetapi bagaimana saya bisa memiliki sikap terbuka dengan teman-teman.

Jadi, buat saya disposition itu ibaratnya tanggung jawab. Yang membedakan saya dan rekan-rekan yang lain adalah saya memiliki tanggung jawab yang lebih besar, di luar hal itu kita sama.

Yang saya ingin build di kantor untuk caring leadership adalah antara atasan dan bawahan itu tidak ada strata yang kokoh. Misalnya kalau kamu mau berbicara dengan atasan itu kaku, itu saya nggak mau.

Jadi, saya ingin bahwa karyawan itu melihat ini adalah keluarga besarnya dia. Makanya, saya selalu berusaha untuk membuka keterbukaan. Saya care dengan mereka, all of the stories juga saya tahu. Karena saya percaya, bahwa lebih baik di-respect daripada ditakuti.

Berbicara soal kesuksesan, bagaimana Anda memaknai kesuksesan? Apa hal terbesar yang mendukung Anda meraih kesuksesan dalam hidup?

EW: Saya melihat kesuksesan itu bukan di diri saya lagi. Saya menganggap diri saya sukses itu kalau saya bisa men-develop tim saya untuk bisa sukses. Jadi, sekarang buat saya mengukur kesuksesan itu lebih dari seberapa banyak orang yang bisa saya touch, yang bisa saya mentoring, yang saya bisa ajak ngomong sehingga mereka lebih sukses.
Intinya, bagaimana saya bisa berkontribusi lebih banyak kepada orang-orang di sekitar dan bagaimana saya bisa memotivasi agar mereka lebih baik. Saya ingin bisa lebih banyak berbagi inspirasi pada generasi-generasi muda terutama kaum perempuan di luar sana, bahwa mereka bisa mendapatkan goals yang mereka inginkan.

Sementara itu, kalau kesuksesan pribadi saya pastinya keluarga ya. Soalnya banyak perempuan bekerja yang takut kalau punya karier yang bagus, hubungan dengan anak-anak tidak bagus. Tapi, meskipun saya sibuk bekerja, hubungan saya dengan anak saya dekat sekali.

Sebagai perempuan sekaligus ibu yang bekerja, bagaimana Anda membagi waktu antara pekerjaan dan mengurus anak di rumah
EW: Jadi, pembahasan ini sebetulnya pernah saya bahas di dalam buku. Artinya, work life balance itu benar atau mitos belaka sih? Kalau saya selalu melihatnya itu adalah mitos. Kenapa? Karena yang ada adalah bagaimana kita bisa memprioritaskan sesuatu.

Saya bilang begini, kita membayangkan diri kita itu kan ada tiga ya; kerja, keluarga dan diri kita sendiri. Kalau kita juggling ketiga bola itu secara bersamaan kan tidak gampang ya. Saat anak-anak saya masih kecil, saya hanya bisa juggling dua bola which is kerja dan keluarga. Diri saya sendiri itu saya lupakan dahulu.

Dari dulu yang selalu saya lakukan adalah Senin-Jumat itu saya kerja dan berusaha kerja yang baik, sehingga Sabtu-Minggu adalah waktu saya untuk keluarga. Jadi, my life is only buat keluarga over weekend. Sistem itu saya terapkan waktu anak-anak masih kecil ya, tapi sekarang ketika anak saya sudah besar mereka sudah tidak terlalu butuh saya, sehingga saya pun punya waktu untuk diri saya sendiri.

Saya bisa olahraga dengan waktu yang lebih panjang. Jadi itu maksudnya prioritas, ketika anak-anak masih kecil, mereka menjadi prioritas saya, sekarang anak-anak sudah besar saya bisa menyisihkan waktu buat diri saya.

Selain menulis, apa healing therapy yang biasanya Anda lakukan ketika tengah menghadapi tekanan atau stres karena pekerjaan? Lalu, apa apa me time favorit Anda?

EW: Sebenarnya hobi saya aneh, hobi saya itu ke pasar tradisional. Jadi, kalau over weekend biasanya ke pasar untuk beli ikan dan daging sendiri. Lalu saya pulang dan masak bahan-bahan itu. Karena saya juga hobi masak.

Di luar itu, saya juga berolahraga, combine antara sepeda statis dan jalan pagi di Sabtu-Minggu. Saya juga suka sekali main nano block. Awalnya healing therapy saya itu adalah nano block, terus saya suka bikin aquarium air tawar yang ada tanamannya.

Saya sendiri tidak sadar bahwa menulis itu bisa menjadi healing therapy saya. Sebenarnya menulis itu selalu ada ke dalam bucket list, bahwa one day saya bisa menulis buku, tapi sayangnya tidak pernah mau mulai.

Dan pada akhirnya ketika saya mulai menulis seperti orang kerasukan, kok cepet banget dan bisa kecanduan. Jadi, sebenarnya kalau menulis jadi healing therapy, saya juga baru realize bahwa selama masa pandemi yang membantu saya itu adalah menulis. Karena di satu sisi, menulis itu bisa mengobati kerinduan saya untuk bersosialisasi.

Menurut Anda, hal apa yang biasanya membatasi perempuan untuk sukses dalam berkarier?

EW: Saya selalu bilang bahwa yang menghambat perempuan adalah dirinya sendiri. Dari beberapa sudut pandang ya, misalnya satu secara culture kita orang Timur. Kita secara langsung dan tidak langsung di-brainwash bahwa rumah dan anak itu menjadi tanggung jawab kita.

Hal inilah mengakibatkan perempuan yang mau kerja, mereka jadi merasa takut kalau mereka kerja tidak bisa mengurus anak dan rumah. Yang kedua, perempuan itu suka bingung dengan apa yang mereka mau. Bingung itu dalam arti gini, saya mau berkarier atau mengurus anak.

Jadi, perempuan harus tahu bahwa tidak ada yang membatasi dirinya, kecuali dirinya sendiri. Tidak ada istilah bahwa pria lebih baik dibandingkan perempuan, atau pria itu lebih pekerja keras daripada perempuan, itu tidak ada. Menurut saya, dari segi otak dan kemampuan sama, yang menjadi masalah perempuannya mau apa tidak.

Saya selalu bilang, kalau kamu mau mengejar karier hingga Top Level, jangan pernah minta diperlakukan khusus. Makanya kita harus lebih pintar. Itu saran aku untuk seluruh perempuan di Indonesia, pertama skill-mu sama, cuma kamu harus lebih pintar saja mengatur waktunya. Yang kedua, jangan berusaha perfect semuanya, dan yang ketiga carilah support system.

Kualitas apa saja yang harus dimiliki perempuan bila ingin menjadi seorang pemimpin muda? Apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan ini?

EW: Menurut saya harus berani speak up, ini yang sering menjadi masalah orang Indonesia. Orang Indonesia itu banyak yang pintar, tetapi banyak yang tidak berani berbicara dan mengungkapkan ide serta pendapatnya. Kedua, mereka itu enggak berani tampil.

Jadi pesan saya, satu kamu harus berani ngomong dan kedua harus aktif dan berpartisipasi dalam berbagai acara di perusahaan dan project. Sehingga kita bisa membuat diri kita kelihatan. Dan saran yang lain adalah do more than you expected, maksudnya kamu harus bekerja lebih dari ekspektasi orang.

Itulah saran saya kepada teman-teman di luar dan untuk perempuan jangan pernah punya pikiran saya tidak bisa mendapatkan posisi itu karena saya adalah perempuan. Tidak ada yang seperti itu, yang ada adalah kamu tidak bisa berada di posisi ini karena kamu kalah kemampuannya dengan orang lain.

Jadi yang harus dilakukan, adalah berusaha agar kemampuan kamu tidak kalah dibandingkan dengan orang lain. Jadi, itu pesan saya untuk teman-teman di luar sana, khususnya untuk seluruh perempuan di Indonesia. (*/red/tanews)

Sumber :Kumparan Woman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *