Pakar Pertahanan Sebut Taiwan adalah Kunci Strategi AS di Indo-Pasifik

Asia1632 Views
banner 468x60

TimesAsiaNews.com | Taipei – Seorang pakar pertahanan Taiwan menyebut Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, saat berpidato di Singapura menyeru kepada sekutu di kawasan Indo-Pasifik untuk meningkatkan pencegahan terhadap China, karena menurut pakar, Taiwan adalah inti dari strategi AS di kawasan tersebut.

Saat gelar Dialog Shangri-La di Singapura pada Sabtu (31/5), Hegseth mengatakan bahwa agresi Tiongkok terhadap Taiwan dapat segera terjadi kapanpun, dan ia mendesak sekutu AS di kawasan tersebut untuk meningkatkan anggaran pertahanan guna membantu membangun “perisai pencegahan.”

Melansir Taipeitimes, Senin (2/6), Su Tzu-yun, seorang peneliti di Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional, mengatakan penting bagi Taiwan selain meningkatkan anggaran pertahanan juga harus menyesuaikan strateginya.

“Meningkatkan anggaran militer bukanlah tentang menyenangkan negara lain, tetapi tentang memenuhi tanggung jawab Taiwan sendiri untuk pertahanan nasional,” katanya.

Su juga mengatakan bahwa usulan Presiden William Lai dan Menteri Pertahanan Nasional Wellington Koo untuk meningkatkan anggaran pertahanan hingga 3 persen dari PDB dan telah mencapai “kesiapan tempur tinggi” pada tahun 2027 menunjukkan komitmen Taiwan terhadap pertahanan diri, yang merupakan syarat penting untuk memperoleh dukungan dari sekutu.

“AS telah meminta sekutu Indo-Pasifiknya untuk meningkatkan anggaran pertahanan selama pemerintahan pertama Presiden AS Donald Trump,” ungkapnya.

Menurutnya, pada pemerintahan kedua Trump ini, Taiwan telah secara eksplisit dimasukkan dalam kerangka strategis, hal itu menunjukkan Washington memandang Taiwan sebagai sekutu utama.

“Hal itu juga mengungkap logika AS bahwa sekutu yang mendapat keuntungan dari surplus perdagangan dengannya seharusnya secara wajar berbagi tanggung jawab atas keamanan dan pertahanan,” jelasnya.

Su juga mengatakan Taiwan harus memperdalam kerja sama dengan sekutu pada tiga tingkat utama, sebagai beeikut:

Yang pertama bersifat strategis, karena semakin banyak negara yang memandang keamanan di Selat Taiwan sebagai isu inti, yang mencerminkan pergeseran fokus strategis global terhadap kawasan tersebut.

Yang kedua menyangkut kepentingan bersama, mengingat 51 persen perdagangan maritim global melewati Selat Taiwan, yang menggarisbawahi bahwa keamanan regional secara langsung mempengaruhi rantai pasokan global.

Ketiga, pada tingkat militer, Taiwan harus terus memperluas pembagian intelijen dan latihan militer bersama dengan sekutunya.

Baca Juga:

Taiwan Tawarkan Dialog dengan China, Lai Ingin Perkuat Wilayahnya

Selain itu, Su mengatakan pengerahan kapal perang HMS Prince of Wales oleh Angkatan Laut Kerajaan Inggris ke kawasan Indo-Pasifik pada bulan April lalu dan pidato utama Presiden Prancis Emmanuel Macron di Dialog Shangri-La pada hari Jumat, memperingatkan bahwa kegagalan dalam menanggapi agresi Rusia di Ukraina dapat membuat China semakin berani terhadap Taiwan, ini juga menunjukkan bahwa negara-negara Eropa semakin menyadari pentingnya strategis Taiwan, serta meningkatnya ancaman yang ditimbulkan oleh China.

“Taiwan harus memperjelas strateginya dengan tidak hanya menekankan demokrasi dan kebebasan, tetapi juga berfokus pada koeksistensi bersama dan manfaat bersama. Selain itu Taiwan juga harus bekerja sama dengan sekutu untuk mengembangkan visi keamanan bersama, yang lebih dalam dan menjadikan bentuk kolaborasi militer selanjutnya sebagai masalah implementasi teknis,” tutupnya. **

(tp/tan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *