TimesAsiaNews.com | Kepala baru perusahaan minyak negara Venezuela PDVSA telah menangguhkan sebagian besar kontrak ekspor minyak mereka, langkah ini dilakukan untuk meninjau kembali dan menghindari utang atau gagal pembayaran.
Melansir Reuters pada Jumat (24/2),
sejak sanksi perdagangan AS pertama kali diberlakukan ke PDVSA pada tahun 2019, perusahaan tersebut semakin banyak menggunakan perantara atau agen yang kurang dikenal untuk mengalokasikan ekspor minyaknya, hal tersebut menyebabkan diskon harga yang besar dan masalah pembayaran yang mempengaruhi keuangan mereka.
“Perintah pembekuan menyebabkan penundaan pelabuhan, karena kapal yang sedang memuat telah dikirim dan sedang menunggu arahan baru, kata orang-orang yang mengetahui hal itu, mengutip keterangan Reuters.
Kepala Eksekutif baru PDVSA Pedro Rafael Tellechea, pada minggu lalu menyampaikan secara tertulis kepada kepala divisi pasokan dan perdagangan perusahaan, pasar domestik, pasar internasional, keuangan dan urusan luar negeri memberi tahu mereka tentang penangguhan kontrak. Surat itu tidak menyebutkan berapa lama pembekuan akan berlangsung.
Tellechea, seorang insinyur lulusan akademi militer yang juga menjalankan perusahaan petrokimia negara Pequiven sejak 2019, diangkat pada 6 Januari menjadi PDVSA oleh Presiden Nicolas Maduro bersama dengan delapan wakil presiden baru.
Penangguhan sejauh ini telah mempengaruhi perusahaan-perusahaan kecil yang dikenal sebagai agen atau perantara dalam penjualan PDVSA ke penyulingan di Asia.
Terpisah, menurut data dari sumber tersebut bahwa kargo yang disewa oleh perusahaan minyak AS Chevron Corp CVX.N dan Cubametales Kuba belum terpengaruh oleh revisi kontrak ini.
“Terlihat sejak pada 17 Januari, sebagian besar tempat berlabuh di terminal minyak utama Venezuela, seperti di pelabuhan Jose kosong dan lebih dari puluhan kapal berada di area pelabuhan menunggu instruksi. Sementara di terminal lain, transfer minyak dari kapal ke kapal dihentikan dan beberapa pelanggan diinstruksikan untuk membayar kargo sepenuhnya sebelum pengiriman,” ungkapnya yang dikutip dari laman tersebut.
PDVSA dan kementerian perminyakan Venezuela tidak segera memberikan komentar atas permintaan itu.
Administrasi PDVSA sebelumnya tahun lalu telah memberlakukan persyaratan kontrak baru untuk pelanggan spotnya, menuntut pembayaran di muka setidaknya setengah dari nilai kargo, ini adalah sebuah strategi untuk menghindari kapal tanker berlayar sebelum ada pembayaran. Situasi ini yang telah memukul keuangannya dalam beberapa tahun terakhir di tengah AS memberlakukan sanksi.
Hanya sedikit pelanggan yang saat ini diizinkan oleh Washington untuk memperdagangkan kargo asal Venezuela, termasuk Chevron, Eni ENI.MI dari Italia, dan Repsol REP.MC dari Spanyol; jadi bagian terbesar dari klien PDVSA adalah perusahaan tanpa rekam jejak perdagangan dan tanpa jaminan kredit. Pemerintah AS telah mengidentifikasi banyak dari perusahaan ini sebagai perusahaan cangkang.
Menurut data dokumen pengiriman, ekspor minyak Venezuela tahun lalu turun 2,5% menjadi 616.540 barel per hari karena pemadaman infrastruktur, sanksi AS dan meningkatnya persaingan di pasar utama Asia meskipun ada bantuan dari sekutu Iran. (Reuters/tanews)








