Bagi India, China adalah Pesaing Utama dan Pakistan adalah Masalah Keamanan Sekunder

Asia1719 Views
banner 468x60

TimesAsiaNews.com | Asia – Badan Intelijen Pertahanan AS (DIA), mengungkap, Pakistan menganggap India sebagai “ancaman eksistensial” dan akan terus berupaya memodernisasi militernya serta mengembangkan senjata nuklir taktis atau membuat latihan medan perang untuk mengimbangi keunggulan militer konvensional India.

Dilansir timesasianews.com, yang disadur dari The Time of India, Senin (26/5), dalam laporan DIA, ‘Penilaian Ancaman Dunia’, yang mencatat Operasi Sindoor India untuk menyerang pusat-pusat teror di Pakistan dan eskalasi permusuhan berikutnya, DIA mengatakan, saat ini prioritas pertahanan Perdana Menteri (PM) India Modi akan difokuskan secara global untuk melawan China, lalu meningkatkan kekuatan militer di India.

“India memandang Tiongkok sebagai musuh utama dan Pakistan lebih sebagai masalah keamanan tambahan yang harus dikelola, meskipun ada serangan lintas batas pada pertengahan Mei oleh kedua militer,” ungkap laporan itu.

China telah memainkan peran besar dalam memfasilitasi hubungan proliferasi untuk membantu Pakistan dan Korea Utara dan terus meningkatkan persenjataan nuklir serta rudal balistik mereka selama bertahun-tahun.

Perkiraan dan pendapat secara global menyebutkan India dan Pakistan masing-masing memiliki sekitar 170 hulu ledak Nuklir, bahkan diketahui Islamabad juga sering mengacungkan rudal jarak pendek Nasr (Hatf-IX) dan rudal lainnya sebagai penyeimbang superioritas militer konvensional New Delhi, sebagaimana yang dilaporkan sebelumnya oleh TOI.

Laporan itu mengatakan persediaan nuklir China mungkin telah melampaui 600 hulu ledak operasional. “Kami memperkirakan China akan memiliki lebih dari 1.000 hulu ledak operasional pada tahun 2030, yang sebagian besar akan dikerahkan pada tingkat kesiapan yang lebih tinggi untuk waktu respons yang lebih cepat,” katanya.

Pakistan Menerima Bantuan Militerisasi dari China

Pakistan terus memodernisasi persenjataan nuklirnya dan menjaga keamanan material tersebut, serta struktur komando dan kontrolnya. “Pakistan hampir pasti mendapatkan barang-barang yang dapat digunakan sebagai WMD (senjata pemusnah massal) dari pemasok dan perantara asing,” kata laporan intelijen itu.

Pada awal 10 Mei, India telah menyerang sembilan pangkalan udara di Pakistan, ini merupakan pesan strategis yang jelas sebelum kesepakatan untuk menghentikan permusuhan mulai berlaku pada malam harinya. Secara khusus, serangan presisi yang mendalam terhadap pangkalan udara Nur Khan dan Sargodha mengguncang Pakistan.

Nur Khan di Rawalpindi terletak dekat dengan markas besar Divisi Rencana Strategis Pakistan yang menangani persenjataan nuklir negara tersebut, sebagaimana dilaporkan oleh TOI.

Menurut DIA, Pakistan merupakan penerima dana ekonomi dan militer dari Beijing, dan pasukannya melakukan beberapa latihan militer dengan pasukan China setiap tahun.

“Material dan teknologi asing yang mendukung program WMD Pakistan kemungkinan besar diperoleh terutama dari pemasok di Tiongkok, dan terkadang diangkut melalui Hong Kong, Singapura, Turki, dan UEA,” katanya.

Laporan tersebut mengatakan India memberikan prioritas untuk memajukan kemitraan pertahanan bilateral, trilateral, dan quadrilateral di Kawasan Samudra Hindia dan Indo-Pasifik melalui latihan, bahkan penjualan senjata, dan berbagi informasi untuk melawan pengaruh Tiongkok dan meningkatkan peran kepemimpinan globalnya.

“India dipastikan akan terus mempromosikan ‘Made in India’ tahun ini untuk membangun industri pertahanan dalam negerinya, mengurangi masalah rantai pasokan, dan memodernisasi militernya,” terang laporan tersebut.

Pada tahun 2024, India melakukan uji coba rudal balistik jarak menengah Agni-I Prime yang berkekuatan nuklir, meski sebuah kendaraan yang sudah masuk zona aman dapat ditargetkan secara independen (beberapa hulu ledak pada satu rudal) Agni-V.

Baca Juga:

Bentrok India dan Pakistan Berlanjut, Apakah Ada Kaitan Terhadap Persenjataan AS vs China?

“India juga menugaskan kapal selam bertenaga nuklir keduanya (INS Arighaat) untuk memperkuat triad nuklirnya dan meningkatkan kemampuannya untuk menghalangi musuh,” tambah laporan itu.

Mengacu pada penarikan pasukan di Depsang dan Demchok di Ladakh timur pada bulan Oktober tahun lalu, laporan itu mengatakan bahwa, “itu tidak menyelesaikan perselisihan lama tentang demarkasi perbatasan tetapi mengurangi beberapa ketegangan yang masih ada” sejak bentrokan Galwan pada tahun 2020. **

(tti/tan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *