Diskusi Media SPRI 2026: Andi Undru Dorong Pemerintah Perkuat Ketepatan Sasaran Bantuan Pertanian

Headline, Opini, Organisasi1088 Dilihat
banner 468x60

TimesAsiaNews.com | Jakarta – Praktisi dan pionir pertanian nasional Andi Undru Mario, Formulator Pupuk Super Tani Indonesia yang berpengalaman mendampingi petani diberbagai daerah di Indonesia, mendorong pemerintah memperkuat sistem pendataan dan penyaluran bantuan pertanian agar tepat sasaran serta benar-benar dirasakan petani.

Andi juga dikenal sebagai inisiator pembagian pupuk gratis kepada petani ketika terjadi kelangkaan pupuk di sejumlah daerah. Kegiatan tersebut telah dilakukannya selama sekitar 15 tahun terakhir sebagai bentuk kepedulian terhadap persoalan yang dihadapi petani di lapangan.

Hal tersebut disampaikan Andi dalam Diskusi Media 2026 bertajuk “Menjaga Ketahanan dan Swasembada Pangan di Tengah Krisis Global” yang digelar DPP Serikat Pers Republik Indonesia (SPRI) di Rarampa Resto & Bar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Ahad (20/9/2026).

Berbekal pengalaman mendampingi petani di berbagai wilayah, Andi mengatakan persoalan ketepatan sasaran bantuan masih perlu menjadi perhatian dalam pelaksanaan kebijakan pertanian.

Menurutnya, akurasi data menjadi salah satu faktor penting dalam memastikan program subsidi dan bantuan pertanian berjalan efektif. Pendataan penerima bantuan, kata dia, perlu dilakukan secara lebih terukur berdasarkan identitas petani dan kondisi lahan yang benar-benar digarap.

“Pendataan harus berbasis by name, by address, and by land. Artinya, harus jelas siapa petaninya, di mana alamatnya, dan berapa luas lahan yang benar-benar digarap. Dengan sistem seperti ini, pemerintah akan lebih mudah memastikan bantuan tepat sasaran,” katanya.

Andi juga meminta agar mekanisme penyaluran bantuan tidak hanya bertumpu pada struktur organisasi atau kelompok tani, tetapi memastikan petani yang menjadi pelaku utama produksi mendapatkan manfaat secara langsung.

“Jangan sampai ada petani yang benar-benar menggarap lahan tetapi justru tidak mendapatkan dukungan karena persoalan administrasi atau data. Kritik ini bukan untuk melemahkan program pemerintah, tetapi justru agar kebijakan yang sudah baik dapat semakin tepat sasaran dan dirasakan langsung oleh petani,” tegas tokoh pertanian asal Sulawesi Selatan yang juga menjabat Dewan Pembina SPRI.

Ia menilai pembenahan sistem bantuan perlu berjalan seiring dengan peningkatan produktivitas pertanian. Menurut Andi, pemerintah juga perlu terus membuka ruang bagi inovasi teknologi dan sarana produksi untuk membantu petani meningkatkan hasil panen.

“Petani harus ditempatkan sebagai aktor utama dalam pembangunan ketahanan pangan. Ketika petani sejahtera, produktivitas meningkat, dan lahan pertanian terlindungi, maka ketahanan pangan nasional juga akan semakin kuat,” ujarnya.

Baca Juga:

Diskusi Media 2026: Penegakan Hukum LP2B Mandul dan Politisasi Kelompok Tani Ancam Ketahanan Pangan Nasional

Andi menegaskan sorotan terhadap persoalan di lapangan merupakan bagian dari upaya mendorong perbaikan kebijakan, bukan untuk mengurangi dukungan terhadap pemerintah.

“Kita harus memberikan dukungan terhadap pemerintah untuk mencapai swasembada pangan. Tetapi dukungan itu juga harus disertai kritik yang konstruktif. Kalau ada persoalan di lapangan, harus disampaikan agar segera diperbaiki. Tujuannya satu, bagaimana petani semakin sejahtera dan produksi pangan nasional semakin kuat,” tutupnya.

Baca Juga:

APTIKNAS Apresiasi Global Sources Indonesia 2026 sebagai Platform Strategis Perkuat Ekosistem Bisnis dan Industri TIK Indonesia

Sementara itu, Ketua Umum DPP SPRI Heintje Mandagi mengatakan diskusi tersebut digelar sebagai bagian dari kontribusi pers dalam mengangkat persoalan strategis yang berkaitan langsung dengan kepentingan masyarakat dan masa depan bangsa.

“Pers tidak hanya bertugas memberitakan apa yang terjadi, tetapi juga membuka ruang dialog untuk mencari solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat. Ketahanan pangan adalah persoalan strategis yang menyangkut kepentingan seluruh rakyat Indonesia, sehingga harus menjadi perhatian bersama,” ujar Heintje.

Kegiatan Diskusi Media ini juga menghadirkan Mantan Irjen Kementan Jan Samuel Maringka sebagai nara sumber dan wartawan dari media TV dan online nasional. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *