TimesAsiaNews.com | Batam – Satu diantara penyebab kematian besar manusia di dunia adalah hipertensi atau suatu kondisi ketika tekanan darah terhadap dinding arteri terlalu tinggi. Biasanya hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah di atas 140/90, dan dianggap parah jika tekanan di atas 180/120.
Dokter (Dr) Afdhalun Hakim, SpJP., Cardiologist (Sepesialis Jantung dan Pembuluh Darah) menerangkan bahwa tubuh manusia dipicu dengan darah yang berpusat di Jantung.
Jantung adalah organ seukuran kepalan tangan yang berguna untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Organ ini adalah bagian utama dari sistem peredaran darah di dalam tubuh setiap orang.
Menurut Dokter yang menangani pasien di beberapa rumah sakit besar Kota Batam dan Jakarta ini bahwa negara yang paling rentan menderita hipertensi nomor satu adalah China. Selanjutnya menyusul India, Amerika Serikat dan terakhir Indonesia.
Diketahui China untuk menderita hipertensi disana sebanyak jumlah penduduk Indonesia, “sebegitu banyaknya mereka yang mengalami hipertensi sebanyak seluruh penduduk Indonesia,” ungkap Dr Afdhalun siang tadi dihadapan jamaah usai shalat Dzuhur di Masjid Baiturrahman Sekupang Kota Batam. Kamis (12/1 /2023).
Sedangkan India dan Amerika Serikat tidak sebanyak penduduk China yang mengalami hipertensi. Di Indonesia sendiri, kata dokter kelahiran Dabosingkep, Kepri ini, saat ini sudah menurun 5 persen.
“Dari beberapa negara di atas kita saat ini menurun 5 persen. Hasil beberapa survey hanya 25 persen pasien yang bisa diobati. 12,5 persen yang hanya mengontrol tekanan darahnya,” sebut Dr Afdhalun.
Menurut Dr Afdhalun, jumlah orang dewasa berusia 30-79 tahun akan mengalami hipertensi, dan ini telah meningkat dari 650 juta menjadi 1,28 miliar dalam tiga puluh tahun terakhir.
Kata Dr Afdhalun, menurut analisis global komprehensif pertama dari tren prevalensi deteksi, pengobatan dan kontrol hipertensi, yang dipimpin oleh Imperial College London dan WHO, dan diterbitkan harian The Times, bahwa tekanan darah dipengaruhi oleh “Curah Jantung.”
Dr Afdhalun melanjutkan, “bagaimana tekanan darah bekerja? Curah jantung inilah atau pacuan jantung akan ikut bekerja, misalnya berdebar,” tambahnya.
Lanjutnya, Bagaimana shalat bisa menurunkan tekanan darah tinggi? Shalat ada beberapa gerakan yang menjadikan bagian wajib sebagai rukun dan syarat.
“Takbiratul Ihram, atau mengangkat kedua tangan. Rujuk dan Sujud,” kata Dr Afdalun.
Ketika shalat, kata Afdhalun, maka akan terjadi perenggangan otot, secara sistematis. Darah pena (kotor) atau deoxygenated blood adalah darah dengan kadar karbondioksida yang terlalu tinggi. Sedangkan darah bersih secara medis mengacu pada darah yang banyak oksigen atau oxygenated bloodada katup/kelep.
“Dengan gerakan yang kita lakukan sehari 5 kali, ditambah dengan shalat-shalat sunat lainnya, sehingga darah menjadi stabil. Seperti leher akan sejajar ke bawah ketika sedang ruku’ dan begitu juga saat sujud, maka posisi kepala ke bawah ini darah akan mengaliri dengan cepat,” jelasnya.
Seperti ruku’, kaki terasa tegang, itu akan menghambat larinya darah secara cepat ke jantung, dengan posisi ruku’, antara darah bawah dan atas akan stabil.
Sedangkan gerakan pada sujud, menurut Dr Afdhalun, kepala di bawah jumlah darah yang mengalir akan semakin banyak, maka akan terjadi relaksasi atau terjadinya efek parasimpatis saraf bekerja, yang akan membuat tubuh melebar dan ini akan menormalkan tekanan darah.
“Gerakan sujud, aliran darah akan meningkat ke bagian kepala, gerakan tersebut akan menurunkan tekanan darah, sehingga stres dan sakit kepala akan hilang,” tambahnya.
Mengutip pendapat dari ahli saraf, kata Dr Afdhalun Hakim, yang dialiri ketika sujud yakni saraf simpatis, sedangkan saraf parasimpatis bekerja menurunkan denyut jantung dan menaikkannya.
Selanjutnya Tuma’ninah (tenang, dengan jeda waktu sesaat).
Menurut Dr Afdhalun, pusat darah atau jantung yang terbaik untuk mengaliri tekanan darah di dalam shalat, selain khusyu’ (tenang, tertib dan fokus berfikir hanya kepada Allah SWT) adalah tuma’ninah.
“Seperti shalat dhuha di pagi hari, dengan dikerjakan 8 rakaat maka akan lebih baik dan ini seperti kita sedang olah raga, selain olah raga jasmani, tentunya rohani pun akan semakin sehat pula,” katanya.
Kata Dr Afdhalun, “semakin usia lanjut maka tekanan darah akan semakin meningkat, tapi risiko untuk publikasi darah tersebut akan sama,” pungkasnya. (red)














