TimesAsiaNews.com | Jika ditelaah atau dikaji lebih jauh lagi terkait shalat, sangat banyak hikmah yang bisa didapat. Shalat ini merupakan sarana komunikasi secara langsung antara seorang hamba dengan Sang Pencipta alam semesta Allah SWT.
Selain itu, sebagaimana dikutip dari akun instagram @nuonlinejatim, shalat merupakan ibadah atau media spiritual penting dalam rangka mencegah kekejian atau kemungkaran.
Ini sebagaimana yang telah Allah firmankan dalam QS. Al-Ankabut: 45.
إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ
Artinya, “sesungguhnya shalat itu dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
Fungsi shalat sebagai pencegah sifat keji dan mungkar ini, maka dapat dikatakan bahwa shalat memiliki fungsi sebagai kontrol diri setiap saat bagi setiap perilaku individu muslim.
Dan ini juga bisa dikatakan sebagai kontrol sosial. Dengan demikian, shalat dapat dijadikan sebuah pola dalam memperjuangkan peningkatan moral masyarakat.
Jika misalkan ada pertanyaan, mengapa masih ada orang yang melakukan shalat lima waktu tetapi tetap saja melakukan kemungkaran dan perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama?
Bisa jadi karena hanya memandang shalat sebagai aktifitas formalitas yang menggugurkan kewajiban saja.
“Hal ini karena shalat masih dipahami hanya sebatas formalitas yang tidak menimbulkan konsekuensi apa-apa terhadap kehidupan orang tersebut,” ungkap Mahbub Ma’afi Ramdlan dalam laman islam.nu.or.id. (bondo/jtmnet/tanews)








