Presiden Turki Erdogan Akui Masalah Bantuan Gempa karena Jumlah Korban Melebihi 12.000 Jiwa

banner 468x60

TimesAsiaNews.com | Turki – Presiden Tayyip Erdogan pada Rabu (8/2) mengatakan ada sedikit masalah dengan respons awal pemerintahannya terhadap korban gempa dahsyat di Turki selatan. Gempa berkekuatan 7,8 SR tersebut menghancurkan sejumlah blok perumahan warga kota Turki. Masyarakat panik dan frustasi, kemarahan mereka meluap karena lambatnya kedatangan tim penyelamat.

Erdogan, yang mencalonkan diri dalam pemilihan pada Mei mendatang, mengatakan dalam kunjungannya ke zona bencana bahwa operasi sekarang berjalan normal dan berjanji tidak akan ada yang kehilangan tempat tinggal, karena jumlah korban tewas di Turki dan negara tetangga Suriah meningkat melebihi 12.000 orang.

Di seberang Turki selatan, para korban gempa mencari tempat berlindung sementara dan makanan meskipun cuaca musim dingin, mereka menunggu dan berharap di tumpukan puing tempat keluarga dan teman mereka yang mungkin masih terkubur.

Tim penyelamat menemukan beberapa orang yang masih hidup. Tetapi tim evakuasi mengeluhkan kurangnya peralatan, keahlian, dan dukungan untuk menyelamatkan mereka yang terjebak di reruntuhan bangunan, hingga mereka mendengar teriakan minta tolong.

“Di mana negara? Ke mana mereka selama dua hari? Kami memohon kepada mereka. Mari kita lakukan, kita bisa mengeluarkan mereka,” kata Sabiha Alinak di dekat bangunan runtuh yang tertutup salju di kota Malatya, mengutip Reuters pada Kamis (9/2).

Jumlah Korban Makin Bertambah

Duta Besar Suriah untuk PBB mengakui pemerintah kekurangan kemampuan dan peralatan bantuan bagi korban gempa di Turki dan Suriah.

Menurut data dari Kedutaan Suriah yang dilansir timesasianews.com, mengutip Reuters, korban tewas dari kedua negara diperkirakan akan bertambah karena ratusan bangunan yang runtuh pada kedua kota tersebut telah menjadi kuburan bagi orang-orang yang tertidur saat gempa melanda.

Di kota Antakya, Turki, puluhan kantong jenazah korban sudah tergeletak di pinggir jalan, bahkan petugas juga menggunakan selimut dan seprai untuk membungkus jenazah korban gempa.

Melek (64 tahun), mengeluhkan kurangnya tim penyelamat, “kami selamat dari gempa, tapi kami akan mati di sini karena kelaparan atau kedinginan,” ungkapnya.

Banyak warga di zona bencana telah tidur di mobil mereka atau di jalan di bawah selimut dalam cuaca dingin yang dapat membekukan. Mereka takut untuk kembali ke gedung yang diguncang oleh gempa berkekuatan 7,8 SR tersebut.

Menurut sumber data yang terpercaya gempa yang terjadi dua hari di Turki dan Suriah ini adalah yang paling mematikan sejak 1999, dengan gempa susulan yang sangat dahsyat.

Korban tewas yang dikonfirmasi naik menjadi 9.057 di Turki pada Rabu, dan di Suriah telah naik menjadi 2.950, menurut pemerintah dan layanan penyelamatan yang beroperasi di barat laut yang saat ini menjadi daerah konflik politik.

Pihak berwenang Turki merilis video korban selamat yang diselamatkan, termasuk seorang gadis muda dengan piyama, dan seorang lelaki tua yang tertutup debu, dengan sebatang rokok yang tidak menyala di antara jari-jarinya saat dia ditarik dari puing-puing.

Pejabat Turki mengatakan sekitar 13,5 juta orang terkena dampak di daerah dengan luas sekitar 450 km (280 mil) dari Adana di barat hingga Diyarbakir di timur. Sedangkan di Suriah, korban gempa sejauh hingga selatan Hama, 250 km dari pusat gempa.

Dari laman Reuters menerangkan korban yang meninggal di Turki adalah pengungsi dari perang Suriah. Kantong jenazah mereka tiba di perbatasan dengan diantar taksi, van, dan ditumpuk di atas truk bak datar untuk dibawa ke tempat peristirahatan terakhir di tanah air mereka.

Lebih dari 298.000 orang telah kehilangan tempat tinggal dan 180 tempat penampungan bagi para pengungsi telah dibuka, media pemerintah Suriah melaporkan, tampaknya mengacu pada daerah-daerah yang berada di bawah kendali pemerintah, dan tidak dipegang oleh fraksi oposisi.

Di Suriah, upaya bantuan dipersulit oleh konflik yang telah memecah belah negara dan menghancurkan infrastruktur di sana.

“Pengiriman bantuan kemanusiaan PBB melalui Turki ke jutaan orang di Suriah barat laut dapat dilanjutkan pada Kamis setelah operasi jangka panjang dihentikan oleh gempa, kata pejabat PBB.

Di kota Aleppo, Suriah, staf di rumah sakit Al-Razi merawat seorang pria yang terluka yang mengatakan lebih dari selusin kerabat termasuk ibu dan ayahnya tewas ketika bangunan tempat mereka teejadi runtuh. (**)

Reuters/tanews

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *