TimesAsiaNews.com | Jakarta – Pada bulan Desember 1996 lalu, Penyair Pulo Lasman Simanjuntak melakukan perjalanan jurnalistik atas undangan sebuah Badan Usaha Milik Negara (BMUN) selaku operator jalan tol.
Dalam suasana jelang Hari Natal, ketiga puisi ini ditulis mulai dari perjalanan Jakarta-Singapura-Malaysia dalam tempo satu minggu seorang diri.
Khusus di negeri Singapura Penyair Pulo Lasman Simanjuntak telah menulis dua puisi, terutama saat ia menginap di sebuah hotel berbintang.
Satu puisi lagi ditulis penyair yang telah menerbitkan 7 buku antologi puisi tunggal dan 26 buku antologi puisi bersama penyair seluruh Indonesia ini ketika dalam perjalanan menggunakan kereta api ke Johor Baru, Malaysia.
Tiga puisi yang ditulis tahun 1996 ini telah dibukukan berjudul TRAUMATIK.
“Ketiga puisi ini juga telah dimuat atau dipublish sejumlah media online,” ujar Penyair Pulo Lasman Simanjuntak yang ratusan karya puisinya telah dimuat di 23 media cetak (suratkabar, koran mingguan, dan majalah) serta dipublish (tayang) pada 139 media online dan majalah digital di Indonesia dan Malaysia.
Berikut di bawah ini tiga puisi tersebut:
Puisi
Pulo Lasman Simanjuntak
BANDARA INTERNASIONAL CHANGI
1//
lihatlah pertokoan siang ini
sudah berdandan
mau tunggu apa lagi mahluk dungu
jasad makin usang sepanjang landasan
permadani batu
tak beri salam tuli
kumpulan kaki-kaki yang payah
2//
percakapan riuh
kulipat rapi dalam kopor
menyedot sepi kian berlemak
sampai dari jarak begitu dekat
supir airbus menggosok-gosok jantung
pesawat belum menembus lapisan kaca
oi, ada bau lonte
kuku-kuku birahi
di sini tanpa beban
sebuah benua dirobek-robek
Singapura, Desember 1996
DARI SINI
ketika tiba kudaku dicambuk bulu-bulu
beranda stasiun yang lugu
makin mengeras bumimu berlapis-lapis
pacu! ayo! pacukan kudaku
sarat racun tumbuhan
menuju gurun perang
sampai terkencing mata uang logam
logikaku terus berlari, berlari
mendaki matahari di kaki mall yang terbakar
faktur-faktur gemerlap
perjalanan kilas balik sudah basi
giliran lewat siapa harus berkemas
dari atas tenda pencuri kembang gula
ataukah menggilas rakus
roda-roda aspal
tercatat biodata dengan air tinta merah
aku melirik
tangannya adalah ratusan mercon
siap meledak
dalam saku celana
Johor Baharu, Malaysia, Desember 1996
SAJAK PERJALANAN EPISODE PERTAMA
badai mengamuk
dari mulut sungai
tak tercatat dalam kitab
wajahmu membatu
batasi bibir laut
aku sendiri bahasa bisu
suara protes
seperti angin berlalu
membujuk ke kancah perang
tak bermimpi permukiman kumuh
serangga liar yang lapar
dan orang-orang sudah ditidurkan
di sebuah negeri gaib
pada zaman abad terbalik
masihkah penyair berpolitik,tanya Mr.Asart
sesal dibanting di trotoar jalan
perkawinan retak
terbentur dinding kapal
Singapura, Desember 1996
_________________________










