TimesAsiaNews.com | Karimun, Kepri – Seorang Warga Jl. Kampung Tengah RT 03, RW 02, Kelurahan Lubuk Semut, Kecamatan Karimun, Kepulauan Riau, hingga saat ini belum pernah menerima bantuan renovasi rumah dari berbagai pihak maupun dinas terkait.
Muhammad (36), seorang pemuda disabilitas, yatim piatu, yang kerap dipanggil Amat berstatuskan belum menikah. Amat sendiri bekerja membantu saudara kandungnya membersihkan sebuah masjid di lingkungan tempat tinggalnya.
Sementara penghasilannya sebagai tukang bersih di masjid tersebut dihimpun dari swadaya masyarakat setempat. Namun hingga saat ini tempat tinggal Amat sendiri belum pernah ada menerima bantuan untuk memperbaiki kediamannya.
Terlihat tempat tinggal Amat sudah tidak layak huni, terdapat banyak atap yang sudah bocor dan sebagian ada yang sudah terlepas. Dikhawatirkan kayu penopang atap rumahnya dapat terjatuh sewaktu-waktu.

Harapan memiliki sebuah rumah aman dan nyaman adalah impian semua kalangan, begitu juga dengan Amat, yang mana sepeninggalan rumah orang tuanya tersebut sangat bersih dan nyaman untuk di huni. Seiring berjalannya waktu maka tempat tinggal yang dahulunya terawat kini sudah sangat memprihatinkan. Jika tidur pada malam hari di dalam rumah bisa melihat bintang-bintang di langit dan menghitung setiap pesawat terbang yang melintas.
Miris lagi dikala hujan turun, air membanjiri di setiap ruangan dan membasahi isi di dalam rumah bahkan penghuninya. Sehingga Amat sendiri sering berpindah posisi tidur untuk menghindari genangan air yang membanjiri dalam ruang rumahnya.
Mirisnya, keadaan seperti ini sudah lama dirasakan Amat. Ditambah dengan keadaan toilet yang mampet, seakan menyempurnakan penderitaan bagi Amat.
Solihin, paman dari Amat mengatakan, Amat adalah pemuda yang tangguh dan sabar. Amat sendiri menurutnya tidak pernah meminta-minta kepada keluarga ataupun masyarakat, meskipun Amat seorang disabilitas. “Kalau tidak dikasi seperti makanan atau minuman, ya dia diam saja, jika diberi baru diambil,” ujar Solihin.
Kata Solihin, tentang makan dan minum Amat, diberikan oleh keluarga setiap hari, mengingat tempat tinggalnya tidak ada dapur lagi. “Kalau pakaian, biasanya diantar ke laundry terdekat dan bebas biaya. “Saya sering membujuk Amat agar tinggal bersama kami, namun dia sendiri selalu menolak dengan alasan, sudah punya rumah sendiri,” tutur Solihin.

Solihin berharap, Pemerintah Kabupaten
Karimun melalui dinas terkait dapat membantu meringankan beban Amat, di samping Amat sendiri menyandang disabilitas, yang tidak bisa bekerja selayaknya manusia biasa. “Kalau pun bisa bekerja, tidak ada yang mau menerima sebagai pekerja mereka, pungkas Solihin.
Sapi’i, Ketua Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Wartawan Online Indonesia Kabupaten Karimun (DPD IWOI) mengajak semua dinas terkait seperti Dinas Sosial, Baznas kabupaten Karimun, maupun provinsi untuk turun kelapangan melihat secara langsung keadaan Amat.
Baca Juga:
Penghujung Ramadhan, DPD IWOI Karimun Berbagi Paket Sembako kepada Janda dan Dhuafa
Menurut Sapi’i, berita mengenai hal ini sudah sering diinformasikan, bahkan sempat viral di media sosial beberapa waktu lalu. Namun hingga kini belum pernah ada pihak terkait maupun aktivis sosial lainnya yang turun untuk mensurvey lokasi tempat tinggal Amat.
“Mudah-mudahan keinginan Amat mendapatkan tempat hunian yang layak dengan disertai sebagai menyandang disabilitas dapat terwujud,” pungkas Sapi’i. *
(ady)














