TIMESASIANews.com | Ankara – Diungkapkan dari pejabat Turki, pasukan tentara mereka hanya perlu beberapa hari untuk bersiap-siap melancarkan serangan darat ke Suriah utara dan membombardir sebuah kelompok Kurdi di seberang perbatasan.
Howitzer yang ditembakkan setiap hari dari Turki telah menyerang target Unit Pertahanan Rakyat Kurdi (YPG) selama seminggu. Begitu juga dengan serangan pesawat tempur Turki rutin melakukan serangan di udara.
Menurut Kementerian Pertahanan Turki, total 89 target dihancurkan selama operasi tersebut. Pada Ahad (27/11), kembali Turki melakukan operasi udara terhadap pangkalan militan Partai Pekerja Kurdistan (PKK) dan sayap militernya YPG yang dicap sebagai organisasi teroris di Ankara, meskipun YPG sendiri membantah terlibat dalam eskalasi perbatasan tersebut.
“Angkatan Bersenjata Turki hanya perlu beberapa hari untuk menjadi hampir sepenuhnya siap,” kata seorang pejabat senior Turki, seperti dikutip dari Reuters.
Ia menambahkan bahwa pejuang oposisi Suriah yang bersekutu dengan Turki siap untuk operasi semacam itu, “tidak butuh waktu lama untuk operasi dimulai,” katanya. “Itu hanya tergantung pada presiden yang memerintahkan,” pungkasnya.
Disisi lain, Pentagon secara tidak langsung menuduh Turki membahayakan pasukan Amerika Serikat yang berbasis di Suriah, setelah Turki dengan gencar melakukan serangan udara ke pangkalan yang digunakan pasukan Amerika dan pejuang Kurdi yang didukung Amerika.
“Serangan udara baru-baru ini di Suriah secara langsung mengancam keselamatan personel Amerika yang bekerja di Suriah dengan mitra lokal untuk mengalahkan ISIS dan menjaga lebih dari 10 ribu tahanan ISIS,” kata Sekretaris Pers Pentagon Brigjen Pat Ryder dalam sebuah pernyataan pada Rabu malam lalu seperti dikutip Al Arabiya. Kamis (24/11/2022) lalu.
Pada hari Selasa kemarin, militer Amerika mengakui bahwa serangan pesawat tak berawak selama operasi militer terbaru Turki melawan pejuang Kurdi di Suriah mendekati pangkalan yang digunakan oleh Amerika. Tetapi serangan itu tidak membahayakan nyawa setiap personel Amerika.
Namun, pernyataan itu berubah sehari kemudian ketika Komando Pusat Amerika (CENTCOM) menyatakan serangan udara Turki telah menempatkan pasukan Amerika dalam risiko.
Dari Beirut dilaporkan bahwa pasukan Kurdi di Suriah utara mengumumkan kematian delapan pejuangnya di Kamp Al-Hol menyusul serangan udara yang diluncurkan oleh. Kamp Al-Hol, yang menampung keluarga jihadis Kurdi disebut menjadi target penyerangan tersebut.
“Serangan Turki meninggalkan delapan pejuang kami yang bertanggung jawab untuk melindungi kamp,” kata Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung AS dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir AFP. Jumat (25/11/2022).
Al-Hol menjadi rumah bagi lebih dari 50 ribu orang, kamp terbesar bagi orang-orang terlantar yang melarikan diri setelah SDF memimpin pertempuran yang mengusir pejuang kelompok negara Islam dari potongan terakhir wilayah Suriah pada tahun 2019. (**)













