TIMESASIANews.com | Kuala Lumpur – Departemen Statistik (DOSM) Malaysia mencatat lapangan kerja informal di negara itu telah mencapai 3,5 juta orang pada tahun 2021, dengan total 23,2 persen penyumbangan atas lapangan kerja negara.
Melansir dari kantor berita Bernama, dalam rilisan thestar yang ditranslet timesasianews.com, pada Jumat (30/12), Kepala Statistik Datuk Seri Dr Mohd Uzir Mahidin dalam keterangannya, mengatakan, tingginya jumlah lapangan kerja di sektor informal sepanjang tahun ini sebagian karena dampak pandemi Covid-19.
“Tenaga kerja ada di sektor ekonomi, gunanya untuk mendukung kehidupan mereka, terutama bagi mereka yang terkena dampak wabah di sektor pariwisata dan industri,” ungkap Mohd Uzir di Kuala Lumpur. Jumat (30/12/2022).
Mohd Uzir mengatakan dari total lapangan kerja informal, 57% atau dua juta orang berada di sektor informal dan 42% atau 1,5 juta orang berada di sektor formal.
Menurut Uzir, lebih dari 70% tenaga kerja di sektor informal berada di kategori pekerja mandiri, yang mengalami peningkatan sebesar 2% dari tahun 2019.
Sedangkan kategori karyawan memberikan kontribusi sebesar 19,2% naik 8% dari tahun 2019.
“Karyawan di sektor ini adalah mereka yang berprofesi sebagai tukang bangunan, babysitter, pedagang asongan, tukang roti, pemotong rumput, buruh, konstruksi (pekerjaan bangunan), penjual warung pinggir jalan, penjahit, penjual pasar, pengantar makanan dan minuman dan supir.
“Penyedia internet dan programmer analyst termasuk pekerjaan di sektor informal yang kenaikannya paling tinggi di tahun 2021,” katanya.
Mohd Uzir mengatakan kriteria utama sektor informal termasuk memiliki kurang dari 10 karyawan dan tidak terdaftar di bawah bentuk khusus undang-undang nasional, sementara pekerja dalam pekerjaan informal mengacu pada setiap pekerja yang tidak memiliki akses, setidaknya satu program jaminan sosial atau tunjangan kerja.
Lanjutnya, dua pertiga lapangan kerja di sektor informal terkonsentrasi di sektor jasa sebesar 67,5%, diikuti oleh sektor manufaktur (19,1%) dan sektor konstruksi (13,4%).
“Kegiatan perdagangan besar dan eceran, perbengkelan kendaraan bermotor menyumbang 24% dari sektor jasa, diikuti oleh kegiatan jasa makanan dan minuman sebesar 23,1%.
“Sebagian besar lapangan pekerjaan di sektor informal beroperasi di rumah (37,1%), diikuti oleh pasar/warung pinggir jalan (29,2%), tidak ada lokasi tetap (bergerak) sebesar 20,7%, dan pabrik/kantor/bengkel (13%),” dia berkata.
Lebih lanjut, Mohd Uzir mengatakan dari distribusi pekerjaan informal berdasarkan jenis kelamin, laki-laki merupakan komposisi tertinggi dengan 61,0% atau 2,13 juta orang dan diikuti oleh perempuan dengan 39,0% atau 1,37 juta orang pada tahun 2021.
Selain itu, ia juga mengamati bahwa sebagian besar tenaga kerja di sektor informal adalah mereka yang memiliki sertifikat SPM dan sederajat, yang mencakup 46,6% atau 607.000 orang dari total tenaga kerja di sektor ini.
“Kelompok ini tercatat naik 4,5% dibandingkan 555.500 orang pada 2019. Diikuti oleh sertifikat UPSR dan yang setara (15,3%) dan sertifikat PT3/PMR (13,2%),” imbuhnya.
Prediksi Pekerjaan di Malaysia tahun 2023
Malaysia telah mengincar peluang dari pergeseran manufaktur keluar dari China selama beberapa tahun terakhir. Diketahui, Negeri Jiran itu telah menarik setidaknya 32 proyek yang telah dipindahkan dari China.
Sebelum pandemi, Malaysia telah mengalami peningkatan investasi di bidang teknologi. Ini karena biaya tenaga kerja yang rendah dan ketegangan perdagangan AS-China.
Kesepakatan besar yang diterima Malaysia baru-baru ini adalah investasi 1,5 miliar ringgit (Rp 5,3 triliun) oleh raksasa chip AS Micron selama lima tahun mulai dari 2018. Jabil, sebuah perusahaan AS yang membuat sampul iPhone, juga telah memperluas operasinya di Malaysia.
“Kami tahu cukup banyak yang telah menyatakan niat mereka untuk beralih dari China dan kami telah melibatkan mereka. Satu-satunya hal adalah waktu,” kata CEO Otoritas Pengembangan Investasi Malaysia, Azman Mahmud, kepada outlet media Malaysia Reserve, mengutip cnbc. (**/tans)








