Pengaruh Resiprositas Tarif Impor AS, PDB Taiwan Diperkirakan Menyusut 3,8 Persen

Asia, Ekonomi2031 Views
banner 468x60

TimesAsiaNews.com | Kaohsiung – Beberapa negara Asia mulai mengkhawatirkan pengumuman tarif timbal balik (resiprositas) sebesar 32% oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, atas ekspor-impor, termasuk Taiwan. Keputusan yang dibuat oleh Trump dapat menimbulkan dampak produk domestik bruto (PDB) dan akan mengalami penurunan yang signifikan.

Melansir Radio Taiwan International pada Sabtu (5/4/), Para pakar negeri Formosa ini berbeda pendapat mengenai dampak potensial tersebut, beberapa pihak menyatakan bahwa masih ada ruang untuk negosiasi sehingga hal itu saat ini mungkin dapat melebihkan kerusakannya.

Pihak lain memperingatkan tentang efek berjenjang yang dapat menghambat pendorong ekonomi utama Taiwan, yang mungkin akan mendorong negeri pulau tersebut ke dalam pertumbuhan negatif tahun ini.

Menganalisis rencana tarif besar-besaran Presiden AS Donald Trump, ekonom Bloomberg memperkirakan kontraksi PDB sebesar 3,8% untuk Taiwan karena penurunan drastis dalam ekspor ke AS, dengan pengiriman dilaporkan akan anjlok hingga 63%.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Presiden Lembaga Penelitian Ekonomi Chung-Hua (CIER) Wang Jiann-chyuan, dari laman RTI mengatakan bahwa tarif 32% belum final, dan bisnis memiliki pilihan untuk beradaptasi, seperti mengalihkan barang setengah jadi melalui negara ketiga atau bahkan berinvestasi langsung di AS.

Namun, Direktur Jenderal Konfederasi Kamar Dagang dan Industri Asia-Pasifik (CACCI) Dr. Darson Chiu, dari lanjutan laman tersebut mengatakan  ekonomi Taiwan terutama bergantung pada ekspor, diikuti oleh konsumsi dan investasi.

“Tarif tersebut dapat berdampak serius pada ekspor Taiwan, termasuk barang setengah jadi yang dijual ke negara-negara Asia Tenggara, yang pada gilirannya dapat memicu perlambatan ekonomi yang lebih luas,” ujarnya. Jumat (4/4/2025).

Terakhir, Chiu mencatat bahwa Taiwan masih memiliki instrumen moneter yang dapat digunakan, termasuk ruang untuk pemotongan suku bunga. Ia mencatat bahwa pemerintah belum menggunakan surplus pendapatan pajak untuk pemberian uang tunai secara luas tahun ini, sehingga menyisakan sejumlah amunisi fiskal yang tersedia.

Baca Juga:

Malaysia bersama Indonesia Rancang Perluas Perdagangan dan Investasi

Dirinya juga mendesak pihak berwenang untuk menyiapkan langkah-langkah stimulus domestik guna mendukung permintaan konsumen jika situasi akan Memburuk. **

(rti/tan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *